IPSI Karawang Siap Ukir Sejarah Baru, Tegaskan Seruan Dukungan Penuh dari Pemda dan KONI

Nusantara42 views

KARAWANG – Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Karawang bersiap mengukir sejarah baru dengan menggelar Pelantikan Pengurus dan Rapat Kerja untuk periode emas 2025–2028. Acara yang tertuang dalam surat undangan resmi bernomor 018/IPSI-KRW/2028 ini bukan sekadar seremoni pergantian kepemimpinan, melainkan tonggak awal transformasi organisasi menuju pencak silat Karawang yang lebih modern, berprestasi, dan terintegrasi.

Informasi yang dihimpun usai Musyawarah Kabupaten Luar Biasa (Muskablub), yang sebelumnya sukses memilih pucuk pimpinan baru, menyebut bahwa momentum pelantikan dan rapat kerja ini menjadi sangat krusial. Dalam agenda tersebut, sejumlah program strategis dan arah kebijakan pembinaan atlet akan dirumuskan secara mendalam untuk mendobrak batas prestasi, baik di tingkat regional maupun nasional.

Ketua IPSI Karawang menegaskan komitmennya untuk membawa pulang sedikitnya dua medali emas dari ajang olahraga bergengsi mendatang. Target ambisius itu, katanya, hanya bisa dicapai melalui program kerja yang inovatif dan terukur, jauh dari pola pembinaan konvensional yang selama ini dijalankan.

Dewan Penasehat Minta Dukungan Maksimal dari Pemda dan KONI

Sementara itu, Dewan Penasehat IPSI Karawang, Soni, menyampaikan seruan tegas kepada Pemerintah Daerah (Pemda) Karawang dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) agar mengakhiri perlakuan berbeda terhadap cabang olahraga pencak silat. Ia mendesak agar pencak silat mendapat dukungan pendanaan maksimal, sepadan dengan potensinya sebagai warisan budaya dan lumbung medali bagi daerah.

Dalam pernyataannya, Soni menyoroti fakta bahwa eksistensi pencak silat di Karawang sangat kuat, namun dukungan yang diterima belum sebanding. Kondisi ini dinilai menjadi salah satu penghambat utama peningkatan prestasi atlet.

“Untuk bisa berkiprah dan berperan di kancah yang lebih tinggi, pencak silat Karawang tidak boleh lagi puas hanya berada di posisi lima besar. Kita harus melompat!” tegas Soni.
“Harusnya kita bisa meloloskan lebih banyak atlet di babak kualifikasi, dan di ajang utama, kita harus bisa berada di level yang jauh lebih besar. Minimal, ada kenaikan signifikan.”

Soni mengakui bahwa pembinaan selama ini telah berjalan, namun hasilnya belum maksimal. Ia menilai momentum pelantikan pengurus baru ini menjadi saat yang tepat untuk melakukan “lompatan kuantum” demi kemajuan pencak silat Karawang.

“Untuk mencapai hasil maksimal, harus ada kolaborasi dan kepedulian semua pihak. Jika tidak ada dukungan nyata dari Pemda, maka saya menghimbau Bupati dan KONI untuk menempatkan pencak silat setara dengan cabang olahraga lain,” ujarnya.

Menurut Soni, pencak silat bukan hanya olahraga berprestasi, tetapi juga bagian penting dari pelestarian budaya lokal. Karena itu, ia menilai investasi Pemda terhadap IPSI harus bersifat total dan berkelanjutan.

“Pencak silat adalah cabang olahraga unggulan yang memiliki akar budaya kuat dan potensi medali besar. Sudah saatnya mendapat prioritas,” tegasnya.

Soni menutup pernyataannya dengan harapan agar manajemen IPSI Karawang periode 2025–2028 mampu menjawab tantangan besar ini dengan kerja nyata dan pergerakan maksimal. Namun, ia mengingatkan bahwa tanpa dukungan politik dan finansial dari pemerintah, cita-cita untuk menembus batas prestasi akan sulit terwujud. (al)